Penjelasan Munarman Soal Kematian Laskar FP1 Sangat Mencerahkan


Juru Bicara FPI Munarman hadir sebagai nara sumber di acara Mata Najwa yang tayang pada Rabu (16/12/2020), yang membahas soal tewasnya enam laskar FPI yang ditembak mati polisi.

Seperti diketahui, versi polisi (awalnya) menyatakan enam laskar FPI ditembak mati karena melakukan penyerangan terhadap polisi dengan menggunakan senjata api.

 

Polisi menyebut terjadi baku tembak (saling tembak), dimana laskar FPI (versi polisi) melakukan penembakan terlebih dahulu.

 

Saat konferensi pers, Kapolda Metro Jaya juga menunjukan dua pucuk senjata api dan beberapa butir peluru yang disebutnya sebagai milik laskar FPI yang digunakan menyerang polisi. Senjata api ini awalnya polisi menyebut senjata asli, lalu besoknya dikatan senjata rakitan.


"Ini ada penyidikan terhadap enam orang FPI yang sudah meninggal dengan pasal 170 dan UU Darurat tentang Penguasaan Sejata Api. Ini artinya yang enam sudah meninggal ini dijadikan tersangka. Padahal menurut UU itu tidak boleh, karena ini enam orang FPI tidak bisa membela diri di Pengadilan (karena sudah meninggal). Kalau orangnya masih hidup bisa membela diri di Pengadilan, silahkan. Kok ini dibuat rekonstruksi seperti itu. Ancurlah negara ini hukumnya," kata Munarman di Mata Najwa.

 

Seperti diketahui, Polisi menyidik tentang kepemilikan senjata api laskar FPI. Dengan memanggil para orang tua korban (kabarnya para orang tua enam laskar FPI tidak mau memenuhi panggilan polisi ini).

 

Lalu polisi juga memanggil Edy Mulyadi, wartawan FNN yang melakukan investigasi di KM50. Dalam surat panggilan polisi, Edy Mulyadi dipanggil sebagai saksi kasus kepemilikan senjata api ilegal. Loh kok?

 

*UPDATE: Polisi Menyebut Kasus 6 Laskar FPI Statusnya Sebagai "Terlapor" Belum "Tersangka"

Badan Reserse Kriminal (Bareskrim) Polri menyatakan enam Laskar FPI yang tewas di jalan Tol Jakarta-Cikampek saat ini berstatus sebagai terlapor.

 

Direktur Tindak Pidana Umum (Dirtipidum) Bareskrim Polri Brigadir Jenderal Andi Rian menuturkan, status itu disematkan dalam penyidikan atas laporan dari polisi yang mengaku diserang FPI.

 

"Iya terlapor, belum tersangka. Laporan oleh anggota Polri yang diserang," kata Andi saat dihubungi CNNIndonesia.com, Jumat (18/12/2020).

 

Menurut dia, hingga saat ini penyidik belum melakukan gelar perkara untuk menentukan tersangka dalam kasus itu. Kata dia, penyidik masih perlu memastikan seluruh pihak yang terlibat.

 

Saat ini penyidik masih berfokus pada serangkaian pemeriksaan saksi terkait. Kasus itu diketahui telah naik ke penyidikan sejak 9 Desember lalu.


Di Mata Najwa, Munarman menegaskan kasus ini bukan kasus pidana biasa, ini kasus Pelanggaran HAM Berat, bukan kewenangan polisi untuk menyidiknya.

 

Berikut penjelasan Munarman yang sangat mencerahkan terkait kasus ini:

software untuk mengakses internet plasa hosting jasa pembuatan website iklan baris spesifikasi komputer server kumpulan software komputer hosting and domain pengertian klaim asuransi webhost indonesia asuransi islam dedicated server indonesia pengertian premi asuransi atlas indonesia pengertian asuransi syariah web hosting terbaik di indonesia perusahaan keuangan di indonesia hosting web daftar asuransi terbaik di indonesia download software pc terbaru web hosting terbaik indonesia web hosting terbaik indonesia makalah tentang asuransi kesehatan makalah asuransi cloud hosting indonesia usaha kesehatan sekolah universitas islam attahiriyah travelling in indonesia contoh bisnis plan sederhana daftar perusahaan asuransi di indonesia universitas internasional batam webhosting terbaik cloud server indonesia file hosting indonesia hosting domain murah asuransi menurut islam jumlah penduduk indonesia biaya kuliah universitas pancasila web hosting termurah web hosting gratisan manulife indonesia pt asuransi adira dinamika indonesian travel domain murah allianz indonesia harga web hosting universitas pendidikan indonesia cara membuat server vpn peringkat universitas di indonesia web hosting support php host indonesia domain paling murah biaya kuliah universitas trisakti harga hosting website indonesia travel guide hosting domain website builder indonesia jurusan universitas indonesia domain dan hosting web hosting indonesia indonesia travel laporan keuangan perusahaan go publik daftar universitas di indonesia domain dan hosting adalah daftar asuransi terbaik kode negara indonesia pengertian hukum asuransi universitas multimedia nusantara beli domain indonesia vps indonesia asuransi perjalanan ke eropa peta indonesia lengkap webhosting indonesia makalah asuransi syariah asuransi perusahaan adira asuransi promo domain murah bus indonesia domain hosting murah daftar asuransi pengertian asuransi pendidikan Nunavut budaya Lini Dayton Freight Hard drive Data Recovery Services Donate a Car di Maryland Pengganti motor Insurance Gas/Electricity Mortgage Attorney Loans Lawyer Donate Conference Call Degree Credit


Juru Bicara FPI Munarman hadir sebagai nara sumber di acara Mata Najwa yang tayang pada Rabu (16/12/2020), yang membahas soal tewasnya enam laskar FPI yang ditembak mati polisi.

Seperti diketahui, versi polisi (awalnya) menyatakan enam laskar FPI ditembak mati karena melakukan penyerangan terhadap polisi dengan menggunakan senjata api.

 

Polisi menyebut terjadi baku tembak (saling tembak), dimana laskar FPI (versi polisi) melakukan penembakan terlebih dahulu.

 

Saat konferensi pers, Kapolda Metro Jaya juga menunjukan dua pucuk senjata api dan beberapa butir peluru yang disebutnya sebagai milik laskar FPI yang digunakan menyerang polisi. Senjata api ini awalnya polisi menyebut senjata asli, lalu besoknya dikatan senjata rakitan.


"Ini ada penyidikan terhadap enam orang FPI yang sudah meninggal dengan pasal 170 dan UU Darurat tentang Penguasaan Sejata Api. Ini artinya yang enam sudah meninggal ini dijadikan tersangka. Padahal menurut UU itu tidak boleh, karena ini enam orang FPI tidak bisa membela diri di Pengadilan (karena sudah meninggal). Kalau orangnya masih hidup bisa membela diri di Pengadilan, silahkan. Kok ini dibuat rekonstruksi seperti itu. Ancurlah negara ini hukumnya," kata Munarman di Mata Najwa.

 

Seperti diketahui, Polisi menyidik tentang kepemilikan senjata api laskar FPI. Dengan memanggil para orang tua korban (kabarnya para orang tua enam laskar FPI tidak mau memenuhi panggilan polisi ini).

 

Lalu polisi juga memanggil Edy Mulyadi, wartawan FNN yang melakukan investigasi di KM50. Dalam surat panggilan polisi, Edy Mulyadi dipanggil sebagai saksi kasus kepemilikan senjata api ilegal. Loh kok?

 

*UPDATE: Polisi Menyebut Kasus 6 Laskar FPI Statusnya Sebagai "Terlapor" Belum "Tersangka"

Badan Reserse Kriminal (Bareskrim) Polri menyatakan enam Laskar FPI yang tewas di jalan Tol Jakarta-Cikampek saat ini berstatus sebagai terlapor.

 

Direktur Tindak Pidana Umum (Dirtipidum) Bareskrim Polri Brigadir Jenderal Andi Rian menuturkan, status itu disematkan dalam penyidikan atas laporan dari polisi yang mengaku diserang FPI.

 

"Iya terlapor, belum tersangka. Laporan oleh anggota Polri yang diserang," kata Andi saat dihubungi CNNIndonesia.com, Jumat (18/12/2020).

 

Menurut dia, hingga saat ini penyidik belum melakukan gelar perkara untuk menentukan tersangka dalam kasus itu. Kata dia, penyidik masih perlu memastikan seluruh pihak yang terlibat.

 

Saat ini penyidik masih berfokus pada serangkaian pemeriksaan saksi terkait. Kasus itu diketahui telah naik ke penyidikan sejak 9 Desember lalu.


Di Mata Najwa, Munarman menegaskan kasus ini bukan kasus pidana biasa, ini kasus Pelanggaran HAM Berat, bukan kewenangan polisi untuk menyidiknya.

 

Berikut penjelasan Munarman yang sangat mencerahkan terkait kasus ini:

0 Response to "Penjelasan Munarman Soal Kematian Laskar FP1 Sangat Mencerahkan"

Post a comment




>