Terbongkar, ini dia tokoh di balik pencabutan tayangan film G30S PK1

Contentmenarik - Film Penumpasan Pengkhianatan G30S PKI merupakan produk tayangan propaganda dari Orde Baru. Film ini merupakan tayangan wajib bagi masyarakat Indonesia selama belasan tahun, namun pada tahun 1998, film yang disutradarai oleh Arifin C. Noer ini terpaksa dicabut tayangannya, ini dia tokoh di balik pencabutan film G30S PKI

Sejarah mencatat, film Pengkhianatan G30S PKI pertama kali tayang pada tahun 1984. Kala itu, pemerintah menginstruksikan kepada satu-satunya stasiun televisi di Indonesia, yakni TVRI, untuk menayangkan film ini setiap tanggal 30 September malam.

Secara garis besar, film dokudrama (dokumenter drama) ini mengisahkan tentang kronologis peristiwa bersejarah, yakni kudeta yang didalangi oleh PKI (Partai Komunis Indonesia) pada 30 September 1965 yang mengakibatkan penculikan dan pembunuhan para jendral TNI.

Setelah diproduksi selama dua tahun dan menghabiskan anggaran sebesar Rp 800 juta, film yang digarap bersama sejarawan andalan Order Baru, Nugroho Notosusanto ini mencapai puncak box office setahun setelahnya.

Menyadur dari Tempo.co, terdapat sejumlah tokoh di balik penghentian tayangan film G30S PKI. Tokoh-tokoh tersebut di antaranya dua orang menteri dan seorang Marsekal TNI.

Film Penumpasan Pengkhianatan G30S/PKI. Foto: Wikipedia
Film Penumpasan Pengkhianatan G30S/PKI. Foto: Wikipedia

Adapun tiga tokoh yang dimaksud adalah Menteri Penerangan Yunus Yosfiah, Menteri Pendidikan Juwono Sudarsono, dan Marsekal Udara Saleh Basarah.

Saat diwawancarai oleh Tempo pada 2012 silam, mantan Menteri Pendidikan, Juwono Sudarsono menjelaskan bahwa, kala itu ia pernah dihubungi oleh Saleh Basarah pada pertengahan 1998.

Dalam komunikasi melalui telepon, Basarah mengatakan keberatannya lantaran dalam film itu memuat keterlibatan perwira AURI (Angkatan Udara Republik Indonesia).

“Beliau keberatan karena film itu mengulang-ulang keterlibatan perwira AURI pada peristiwa itu (30 September),” ujar Mantan Menteri Pendidikan, Juwono.

Ketika menjabat sebagai Menteri Pendidikan, Juwono sempat membuat kebijakan dengan meminta kepada para ahli sejarah untuk meneliti lebih lanjut kurikulum mata pelajaran sejarah di tingkat SMP hingga SMA.

Hal itu dilakukan pada sejumlah peristiwa-peristiwa penting pada sejarah dengan tujuan agar informasi yang diterima generasi mendatang lebih berimbang.

“Saya ingin informasi yang diterima siswa lebih berimbang,” katanya

Seperti halnya pada peristiwa Serangan Umum 1 Maret 1949, Yogyakarta yang terlalu menonjolkan sosok Letnan Kolonel Soeharto. Padahal terdapat tokoh lain yang tak kalah berperan penting dalam insiden itu, yakni perjuangan Sri Sultan Hamengku Buwono IX.

Sejalan dengan pernyataan itu, Sejarawan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, Asvi Warman Adam juga mengatakan hal serupa.

“Waktu itu ada permintaan dari Perhimpunan Purnawirawan Angkatan Udara Republik Indonesia (PP AURI). Pak Saleh minta supaya film itu tidak diputar lagi,” terang Asvi.

Cuplikan Film Penumpasan Pengkhianatan G30S/PKI. Foto: Youtube
Cuplikan Film Penumpasan Pengkhianatan G30S/PKI. Foto: Youtube

Bahkan, saat itu, sejumlah anggota TNI Angkatan Udara menilai bahwa film itu mendiskreditkan pangkalan AURI di Halim Perdanakusumah sebagai sarang komunisme.

“Halim PK dianggap sebagai sarang PKI,” jelasnya.

Diketahui lebih lanjut, Menteri Penerangan, Yunus Yosfiah pernah mengungkapkan bahwa, pemutaran film yang bernuansa meningkatkan citra seorang tokoh, tak lagi sesuai dengan semangat reformasi. Sejumlah film yang dimaksud adalah Pengkhianatan G30S/PKI, Janur Kuning, dan Serangan Fajar.

Oleh sebab itu, dikutip dari Kompas (24 September 1998), pemerintah memutuskan untuk memberlakukan kebijakan pencabutan film G30S PKI.

Bermuatan propaganda Orde Baru

Sosok Presiden Soeharto dan film Penumpasan Pengkhianatan G30S/PKI. Foto: Antara, Wikipedia
Sosok Presiden Soeharto dan film Penumpasan Pengkhianatan G30S/PKI. Foto: Antara, Wikipedia

Disisi lain, Doktor Kajian Asia Tenggara bidang Film di National University of Singapore, Budi Irawanto berpendapat bahwa film tersebut sukses menyebar muatan propaganda dengan baik, bahhkan mempengaruhi generasi dan pikiran rakyat Indonesia.

“Film Pengkhianatan G30S PKI adalah salah satu film terbaik dalam menyebar propaganda dan kebencian kepada musuhnya, PKI dan Gerwani (Gerakan Wanita Indonesia), dan itu tertanam dalam benak satu generasi,” tutur Budi, dikutip Merdeka.com.

Lebih jauh, jika pada rezim Orde Lama sejarah Indonesia dibangun dengan membenturkan antara kolinilaisme dan imperialisme dengan nasonalisme, sedangkan pada Orde Baru, pemerintah melihat sejarah tanah air sebagai perjuangan antara pendukung dan penentang Pancasila dengan pihak penentunya adalah TNI.

“… Jika rezim sebelumnya membangun sejarah Indonesia dari benturan antara kolonialisme dan imperialisme dalam melawan nasionalisme Indonesia dengan Soekarno sebagai pusat, maka Orde Baru melihat sejarah Indonesia sebagai hasil dari perjuangan antara pendukung dan penentang Pancasila dengan menempatkan militer sebagai faktor penentu,” tulis Profesor Ilmu Sejarah Universitas Gadjah Mada, Bambang Purwanto dalam pengantar buku ‘Ketika Sejarah Berseragam: Membongkar Ideologi Militer dalam Menyusun Sejarah Indonesia’ karya Katherine E McGregor.

Sumber Berita / Artikel Asli : Hops

software untuk mengakses internet plasa hosting jasa pembuatan website iklan baris spesifikasi komputer server kumpulan software komputer hosting and domain pengertian klaim asuransi webhost indonesia asuransi islam dedicated server indonesia pengertian premi asuransi atlas indonesia pengertian asuransi syariah web hosting terbaik di indonesia perusahaan keuangan di indonesia hosting web daftar asuransi terbaik di indonesia download software pc terbaru web hosting terbaik indonesia web hosting terbaik indonesia makalah tentang asuransi kesehatan makalah asuransi cloud hosting indonesia usaha kesehatan sekolah universitas islam attahiriyah travelling in indonesia contoh bisnis plan sederhana daftar perusahaan asuransi di indonesia universitas internasional batam webhosting terbaik cloud server indonesia file hosting indonesia hosting domain murah asuransi menurut islam jumlah penduduk indonesia biaya kuliah universitas pancasila web hosting termurah web hosting gratisan manulife indonesia pt asuransi adira dinamika indonesian travel domain murah allianz indonesia harga web hosting universitas pendidikan indonesia cara membuat server vpn peringkat universitas di indonesia web hosting support php host indonesia domain paling murah biaya kuliah universitas trisakti harga hosting website indonesia travel guide hosting domain website builder indonesia jurusan universitas indonesia domain dan hosting web hosting indonesia indonesia travel laporan keuangan perusahaan go publik daftar universitas di indonesia domain dan hosting adalah daftar asuransi terbaik kode negara indonesia pengertian hukum asuransi universitas multimedia nusantara beli domain indonesia vps indonesia asuransi perjalanan ke eropa peta indonesia lengkap webhosting indonesia makalah asuransi syariah asuransi perusahaan adira asuransi promo domain murah bus indonesia domain hosting murah daftar asuransi pengertian asuransi pendidikan Nunavut budaya Lini Dayton Freight Hard drive Data Recovery Services Donate a Car di Maryland Pengganti motor Insurance Gas/Electricity Mortgage Attorney Loans Lawyer Donate Conference Call Degree Credit

Contentmenarik - Film Penumpasan Pengkhianatan G30S PKI merupakan produk tayangan propaganda dari Orde Baru. Film ini merupakan tayangan wajib bagi masyarakat Indonesia selama belasan tahun, namun pada tahun 1998, film yang disutradarai oleh Arifin C. Noer ini terpaksa dicabut tayangannya, ini dia tokoh di balik pencabutan film G30S PKI

Sejarah mencatat, film Pengkhianatan G30S PKI pertama kali tayang pada tahun 1984. Kala itu, pemerintah menginstruksikan kepada satu-satunya stasiun televisi di Indonesia, yakni TVRI, untuk menayangkan film ini setiap tanggal 30 September malam.

Secara garis besar, film dokudrama (dokumenter drama) ini mengisahkan tentang kronologis peristiwa bersejarah, yakni kudeta yang didalangi oleh PKI (Partai Komunis Indonesia) pada 30 September 1965 yang mengakibatkan penculikan dan pembunuhan para jendral TNI.

Setelah diproduksi selama dua tahun dan menghabiskan anggaran sebesar Rp 800 juta, film yang digarap bersama sejarawan andalan Order Baru, Nugroho Notosusanto ini mencapai puncak box office setahun setelahnya.

Menyadur dari Tempo.co, terdapat sejumlah tokoh di balik penghentian tayangan film G30S PKI. Tokoh-tokoh tersebut di antaranya dua orang menteri dan seorang Marsekal TNI.

Film Penumpasan Pengkhianatan G30S/PKI. Foto: Wikipedia
Film Penumpasan Pengkhianatan G30S/PKI. Foto: Wikipedia

Adapun tiga tokoh yang dimaksud adalah Menteri Penerangan Yunus Yosfiah, Menteri Pendidikan Juwono Sudarsono, dan Marsekal Udara Saleh Basarah.

Saat diwawancarai oleh Tempo pada 2012 silam, mantan Menteri Pendidikan, Juwono Sudarsono menjelaskan bahwa, kala itu ia pernah dihubungi oleh Saleh Basarah pada pertengahan 1998.

Dalam komunikasi melalui telepon, Basarah mengatakan keberatannya lantaran dalam film itu memuat keterlibatan perwira AURI (Angkatan Udara Republik Indonesia).

“Beliau keberatan karena film itu mengulang-ulang keterlibatan perwira AURI pada peristiwa itu (30 September),” ujar Mantan Menteri Pendidikan, Juwono.

Ketika menjabat sebagai Menteri Pendidikan, Juwono sempat membuat kebijakan dengan meminta kepada para ahli sejarah untuk meneliti lebih lanjut kurikulum mata pelajaran sejarah di tingkat SMP hingga SMA.

Hal itu dilakukan pada sejumlah peristiwa-peristiwa penting pada sejarah dengan tujuan agar informasi yang diterima generasi mendatang lebih berimbang.

“Saya ingin informasi yang diterima siswa lebih berimbang,” katanya

Seperti halnya pada peristiwa Serangan Umum 1 Maret 1949, Yogyakarta yang terlalu menonjolkan sosok Letnan Kolonel Soeharto. Padahal terdapat tokoh lain yang tak kalah berperan penting dalam insiden itu, yakni perjuangan Sri Sultan Hamengku Buwono IX.

Sejalan dengan pernyataan itu, Sejarawan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, Asvi Warman Adam juga mengatakan hal serupa.

“Waktu itu ada permintaan dari Perhimpunan Purnawirawan Angkatan Udara Republik Indonesia (PP AURI). Pak Saleh minta supaya film itu tidak diputar lagi,” terang Asvi.

Cuplikan Film Penumpasan Pengkhianatan G30S/PKI. Foto: Youtube
Cuplikan Film Penumpasan Pengkhianatan G30S/PKI. Foto: Youtube

Bahkan, saat itu, sejumlah anggota TNI Angkatan Udara menilai bahwa film itu mendiskreditkan pangkalan AURI di Halim Perdanakusumah sebagai sarang komunisme.

“Halim PK dianggap sebagai sarang PKI,” jelasnya.

Diketahui lebih lanjut, Menteri Penerangan, Yunus Yosfiah pernah mengungkapkan bahwa, pemutaran film yang bernuansa meningkatkan citra seorang tokoh, tak lagi sesuai dengan semangat reformasi. Sejumlah film yang dimaksud adalah Pengkhianatan G30S/PKI, Janur Kuning, dan Serangan Fajar.

Oleh sebab itu, dikutip dari Kompas (24 September 1998), pemerintah memutuskan untuk memberlakukan kebijakan pencabutan film G30S PKI.

Bermuatan propaganda Orde Baru

Sosok Presiden Soeharto dan film Penumpasan Pengkhianatan G30S/PKI. Foto: Antara, Wikipedia
Sosok Presiden Soeharto dan film Penumpasan Pengkhianatan G30S/PKI. Foto: Antara, Wikipedia

Disisi lain, Doktor Kajian Asia Tenggara bidang Film di National University of Singapore, Budi Irawanto berpendapat bahwa film tersebut sukses menyebar muatan propaganda dengan baik, bahhkan mempengaruhi generasi dan pikiran rakyat Indonesia.

“Film Pengkhianatan G30S PKI adalah salah satu film terbaik dalam menyebar propaganda dan kebencian kepada musuhnya, PKI dan Gerwani (Gerakan Wanita Indonesia), dan itu tertanam dalam benak satu generasi,” tutur Budi, dikutip Merdeka.com.

Lebih jauh, jika pada rezim Orde Lama sejarah Indonesia dibangun dengan membenturkan antara kolinilaisme dan imperialisme dengan nasonalisme, sedangkan pada Orde Baru, pemerintah melihat sejarah tanah air sebagai perjuangan antara pendukung dan penentang Pancasila dengan pihak penentunya adalah TNI.

“… Jika rezim sebelumnya membangun sejarah Indonesia dari benturan antara kolonialisme dan imperialisme dalam melawan nasionalisme Indonesia dengan Soekarno sebagai pusat, maka Orde Baru melihat sejarah Indonesia sebagai hasil dari perjuangan antara pendukung dan penentang Pancasila dengan menempatkan militer sebagai faktor penentu,” tulis Profesor Ilmu Sejarah Universitas Gadjah Mada, Bambang Purwanto dalam pengantar buku ‘Ketika Sejarah Berseragam: Membongkar Ideologi Militer dalam Menyusun Sejarah Indonesia’ karya Katherine E McGregor.

Sumber Berita / Artikel Asli : Hops

0 Response to "Terbongkar, ini dia tokoh di balik pencabutan tayangan film G30S PK1"

Post a comment




>