Mahfud Nilai NKRI Bersyariah Berlebihan, Begini Tanggapan Peneliti Insist


Peneliti Institute for the Study of Islamic Thought and Civilizations (Insist), Ustaz Budi Handrianto, mengkritisi pernyataan mantan ketua Mahkamah Konstitusi (MK), Mahfud MD yang menyebut konsep “NKRI bersyariah” adalah berlebihan. Menurut Budi, Islam, dan juga manusia pada umumnya, mengakui aspek lahir sekaligus batin, aspek syahadah sekaligus gaib, isi sekaligus tampilan.

“Kedua-duanya diakui sama pantasnya. Memang isi lebih penting daripada tampilan berdasarkan hadis, ‘Innallaha laa yanzhuru ilaa suwarikum wa ajsamikum’ (Sesungguhnya Allah tidak menilai dari fisik dan rupa kalian). Tapi kebanyakan manusia itu ahlu zhahir, senang dengan tampilan,” kata Ustaz Budi kepada Indonesia Inside, saat dihubungi, Jumat (16/8).

Dia menuturkan, sering kali manusia justru melihat tampilan lebih dulu daripada isi. Menurutnya, hal ini wajar-wajar saja karena juga soal kepatutan. Misalnya, seorang profesor berilmu tinggi dan hebat menyampaikan argumen, tapi di forum resmi dia memakai kaos oblong. “Tentu tidak pantas dan orang jadi tidak mau dengar omongannya,” ujarnya mencontohkan.

Contoh lain, pada perayaan 17 Agustus, meski telah berjiwa patriot, membela bangsa dan negara, namun tetap saja bendera Merah Putih dipasang di tiap rumah, wilayah, hingga mengadakan lomba dalam rangka mensyukuri anugerah kemerdekaan. Karenanya, warga negara tidak cukup hanya di dalam hatinya untuk menegaskan jiwa patriot dan nasionalis.

“Hati penting, penampilan juga tetap penting. Kadang kita harus menunjukkan jiwa patriot kita dengan memasang bendera di depan tumah, walaupun yg memasang juga belum tentu patriot,” tuturnya.

Demikian pula halnya dengan negara yang Islami. Dia mengatakan, jika pimpinan negara dan jajarannya serta pemerintah daerah dan masyarakatnya sudah Islami itu satu langkah yang baik. Namun, jika ditambah predikat, seperti negeri yang islami, bersyariah, baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur, tentu lebih baik.

“Orang yang melihat juga adem. Saksikan beberapa kota di daerah memasang plang asmaul husna di sepanjang jalan, kan enak melihatnya. Apalagi diamalkan,” katanya.

Sebelumnya, Mahfud MD menyatakan bahwa konsep “NKRI bersyariah” adalah berlebihan. Menurut dia, konsepsi negara Islami adalah negara yang tidak melanggar tujuan-tujuan syariat (masashi syariah), meskipun negara tersebut tidak secara tegas berasaskan Islam.

“Kalau ada ide “Indonesia bersyariah”, itu berlebihan. Karena Indonesia ini tanpa dikatakan pun sudah bersyariah,” kata Mahfud kepada wartawan di sela-sela diskusi di bilangan Kuningan, Jakarta Selatan, Jumat (16/8) siang.

Mahfud menjelaskan, di antara substansi dari bersyariah adalah mengikuti ajaran Islam yang tulus, bersahabat, melindungi HAM, menegakkan hukum, dan memilih pemimpin yang adil. Dengan begitu, implementasi ajaran Islam bukan lagi pada tataran diksi, melainkan nilai atau esensi. [ns]
software untuk mengakses internet plasa hosting jasa pembuatan website iklan baris spesifikasi komputer server kumpulan software komputer hosting and domain pengertian klaim asuransi webhost indonesia asuransi islam dedicated server indonesia pengertian premi asuransi atlas indonesia pengertian asuransi syariah web hosting terbaik di indonesia perusahaan keuangan di indonesia hosting web daftar asuransi terbaik di indonesia download software pc terbaru web hosting terbaik indonesia web hosting terbaik indonesia makalah tentang asuransi kesehatan makalah asuransi cloud hosting indonesia usaha kesehatan sekolah universitas islam attahiriyah travelling in indonesia contoh bisnis plan sederhana daftar perusahaan asuransi di indonesia universitas internasional batam webhosting terbaik cloud server indonesia file hosting indonesia hosting domain murah asuransi menurut islam jumlah penduduk indonesia biaya kuliah universitas pancasila web hosting termurah web hosting gratisan manulife indonesia pt asuransi adira dinamika indonesian travel domain murah allianz indonesia harga web hosting universitas pendidikan indonesia cara membuat server vpn peringkat universitas di indonesia web hosting support php host indonesia domain paling murah biaya kuliah universitas trisakti harga hosting website indonesia travel guide hosting domain website builder indonesia jurusan universitas indonesia domain dan hosting web hosting indonesia indonesia travel laporan keuangan perusahaan go publik daftar universitas di indonesia domain dan hosting adalah daftar asuransi terbaik kode negara indonesia pengertian hukum asuransi universitas multimedia nusantara beli domain indonesia vps indonesia asuransi perjalanan ke eropa peta indonesia lengkap webhosting indonesia makalah asuransi syariah asuransi perusahaan adira asuransi promo domain murah bus indonesia domain hosting murah daftar asuransi pengertian asuransi pendidikan Nunavut budaya Lini Dayton Freight Hard drive Data Recovery Services Donate a Car di Maryland Pengganti motor Insurance Gas/Electricity Mortgage Attorney Loans Lawyer Donate Conference Call Degree Credit

Peneliti Institute for the Study of Islamic Thought and Civilizations (Insist), Ustaz Budi Handrianto, mengkritisi pernyataan mantan ketua Mahkamah Konstitusi (MK), Mahfud MD yang menyebut konsep “NKRI bersyariah” adalah berlebihan. Menurut Budi, Islam, dan juga manusia pada umumnya, mengakui aspek lahir sekaligus batin, aspek syahadah sekaligus gaib, isi sekaligus tampilan.

“Kedua-duanya diakui sama pantasnya. Memang isi lebih penting daripada tampilan berdasarkan hadis, ‘Innallaha laa yanzhuru ilaa suwarikum wa ajsamikum’ (Sesungguhnya Allah tidak menilai dari fisik dan rupa kalian). Tapi kebanyakan manusia itu ahlu zhahir, senang dengan tampilan,” kata Ustaz Budi kepada Indonesia Inside, saat dihubungi, Jumat (16/8).

Dia menuturkan, sering kali manusia justru melihat tampilan lebih dulu daripada isi. Menurutnya, hal ini wajar-wajar saja karena juga soal kepatutan. Misalnya, seorang profesor berilmu tinggi dan hebat menyampaikan argumen, tapi di forum resmi dia memakai kaos oblong. “Tentu tidak pantas dan orang jadi tidak mau dengar omongannya,” ujarnya mencontohkan.

Contoh lain, pada perayaan 17 Agustus, meski telah berjiwa patriot, membela bangsa dan negara, namun tetap saja bendera Merah Putih dipasang di tiap rumah, wilayah, hingga mengadakan lomba dalam rangka mensyukuri anugerah kemerdekaan. Karenanya, warga negara tidak cukup hanya di dalam hatinya untuk menegaskan jiwa patriot dan nasionalis.

“Hati penting, penampilan juga tetap penting. Kadang kita harus menunjukkan jiwa patriot kita dengan memasang bendera di depan tumah, walaupun yg memasang juga belum tentu patriot,” tuturnya.

Demikian pula halnya dengan negara yang Islami. Dia mengatakan, jika pimpinan negara dan jajarannya serta pemerintah daerah dan masyarakatnya sudah Islami itu satu langkah yang baik. Namun, jika ditambah predikat, seperti negeri yang islami, bersyariah, baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur, tentu lebih baik.

“Orang yang melihat juga adem. Saksikan beberapa kota di daerah memasang plang asmaul husna di sepanjang jalan, kan enak melihatnya. Apalagi diamalkan,” katanya.

Sebelumnya, Mahfud MD menyatakan bahwa konsep “NKRI bersyariah” adalah berlebihan. Menurut dia, konsepsi negara Islami adalah negara yang tidak melanggar tujuan-tujuan syariat (masashi syariah), meskipun negara tersebut tidak secara tegas berasaskan Islam.

“Kalau ada ide “Indonesia bersyariah”, itu berlebihan. Karena Indonesia ini tanpa dikatakan pun sudah bersyariah,” kata Mahfud kepada wartawan di sela-sela diskusi di bilangan Kuningan, Jakarta Selatan, Jumat (16/8) siang.

Mahfud menjelaskan, di antara substansi dari bersyariah adalah mengikuti ajaran Islam yang tulus, bersahabat, melindungi HAM, menegakkan hukum, dan memilih pemimpin yang adil. Dengan begitu, implementasi ajaran Islam bukan lagi pada tataran diksi, melainkan nilai atau esensi. [ns]

0 Response to "Mahfud Nilai NKRI Bersyariah Berlebihan, Begini Tanggapan Peneliti Insist"

Post a comment




>