Industri Manufaktur RI Kian Suram Saja, Kenapa?


Badan Pusat Statistik mencatat pertumbuhan sektor manufaktur pada kuartal II-2019 sebesar 3,54% secara tahunan (year-on-year/YoY). Namun, angka pertumbuhan ini melambat dibanding kuartal II tahun sebelumnya sebesar 3,88%. 

Dari 7 kelompok industri manufaktur, 3 di antaranya membukukan percepatan pertumbuhan ekonomi pada kuartal II-2019. Mereka adalah industri tekstil dan pakaian jadi, serta Kertas dan Barang dari Kertas (termasuk percetakan). 

Pertumbuhan industri tekstil dan pakaian jadi naik dari 6,48% YoY di kuartal II-2018 menjadi 20,71% YoY di kuartal II-2019. Sementara pertumbuhan industri kertas dan barang dari kertas membaik dari kontraksi 3,03%YoY pada kuartal II-2018 menjadi positif 12,49% YoY di kuartal II-2019.

Adanya gelaran Pemilu 2019 pada bulan April lalu turut menyumbangkan angka pertumbuhan tersebut.

Ade Sudrajat, Ketua Umum Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) mengatakan industri Tekstil dan Produk Tekstil (TPT) mengakui adanya peningkatan yang terjadi sewaktu kampanye Pilpres lalu. 

Namun, momen musiman itu diprediksi tidak akan lagi ada ditemukan hingga kuartal III-2019. Apalagi musim anak sekolah membeli seragam baru pun sudah berakhir.

Ade mencermati tren perang dagang saat ini akan menjadi salah satu faktor yang mempengaruhi kinerja industri TPT.

"Pada kuartal III kira-kira istilahnya masih flat, kalau ada lonjakan tidak terlalu mempengaruhi," katanya.

Perlambatan pertumbuhan di sektor manufaktur ini juga berbanding terbalik dengan investasi yang tinggi pada kuartal II-2019. Mengacu data Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), realisasi investasi pada triwulan II-2019 tumbuh 13,7% menjadi Rp 200,5 triliun dari Rp 176,3 triliun. 

"Pengaruh investasi ke sektor riil belum nendang, dampak investasi ke pertumbuhan industri untuk menciptakan dan menyerap lapangan kerja belum mampu mendongkrak," kata Peneliti Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) Ahmad Heri Firdaus di Jakarta, Rabu (7/8/2019).

INDEF mencermati, kinerja investasi jika dilihat dari Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) mengalami perlambatan dari 5,85% pada triwulan II-2018 menjadi hanya 5,01% saja di triwulan II-2019. 

PMTB kali ini juga lebih rendah dari pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 5,05%," kata Ahmad menambahkan. 

Fenomena ini disebabkan karena terjadinya kontraksi pada investasi barang modal (primer) dan perdagangan (sekunder) ke sektor yang sifatnya jasa (tersier). Dengan demikian, ada indikasi, dampak investasi ke penambahan lapangan kerja dan penciptaan lapangan kerja kian menipis begitu juga dengan efektivitasnya terhadap pertumbuhan ekonomi. 

Ia mengatakan terjadi pergeseran struktur investasi asing di Indonesia dari sekunder ke tersier. Tercatat, saat ini porsi penanaman modal asing (PMA) yang berada di sektor tersier seperti jasa keuangan mencapai 48,2%, selebihnya di sektor primer dan sekunder. [cb]
software untuk mengakses internet plasa hosting jasa pembuatan website iklan baris spesifikasi komputer server kumpulan software komputer hosting and domain pengertian klaim asuransi webhost indonesia asuransi islam dedicated server indonesia pengertian premi asuransi atlas indonesia pengertian asuransi syariah web hosting terbaik di indonesia perusahaan keuangan di indonesia hosting web daftar asuransi terbaik di indonesia download software pc terbaru web hosting terbaik indonesia web hosting terbaik indonesia makalah tentang asuransi kesehatan makalah asuransi cloud hosting indonesia usaha kesehatan sekolah universitas islam attahiriyah travelling in indonesia contoh bisnis plan sederhana daftar perusahaan asuransi di indonesia universitas internasional batam webhosting terbaik cloud server indonesia file hosting indonesia hosting domain murah asuransi menurut islam jumlah penduduk indonesia biaya kuliah universitas pancasila web hosting termurah web hosting gratisan manulife indonesia pt asuransi adira dinamika indonesian travel domain murah allianz indonesia harga web hosting universitas pendidikan indonesia cara membuat server vpn peringkat universitas di indonesia web hosting support php host indonesia domain paling murah biaya kuliah universitas trisakti harga hosting website indonesia travel guide hosting domain website builder indonesia jurusan universitas indonesia domain dan hosting web hosting indonesia indonesia travel laporan keuangan perusahaan go publik daftar universitas di indonesia domain dan hosting adalah daftar asuransi terbaik kode negara indonesia pengertian hukum asuransi universitas multimedia nusantara beli domain indonesia vps indonesia asuransi perjalanan ke eropa peta indonesia lengkap webhosting indonesia makalah asuransi syariah asuransi perusahaan adira asuransi promo domain murah bus indonesia domain hosting murah daftar asuransi pengertian asuransi pendidikan Nunavut budaya Lini Dayton Freight Hard drive Data Recovery Services Donate a Car di Maryland Pengganti motor Insurance Gas/Electricity Mortgage Attorney Loans Lawyer Donate Conference Call Degree Credit

Badan Pusat Statistik mencatat pertumbuhan sektor manufaktur pada kuartal II-2019 sebesar 3,54% secara tahunan (year-on-year/YoY). Namun, angka pertumbuhan ini melambat dibanding kuartal II tahun sebelumnya sebesar 3,88%. 

Dari 7 kelompok industri manufaktur, 3 di antaranya membukukan percepatan pertumbuhan ekonomi pada kuartal II-2019. Mereka adalah industri tekstil dan pakaian jadi, serta Kertas dan Barang dari Kertas (termasuk percetakan). 

Pertumbuhan industri tekstil dan pakaian jadi naik dari 6,48% YoY di kuartal II-2018 menjadi 20,71% YoY di kuartal II-2019. Sementara pertumbuhan industri kertas dan barang dari kertas membaik dari kontraksi 3,03%YoY pada kuartal II-2018 menjadi positif 12,49% YoY di kuartal II-2019.

Adanya gelaran Pemilu 2019 pada bulan April lalu turut menyumbangkan angka pertumbuhan tersebut.

Ade Sudrajat, Ketua Umum Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) mengatakan industri Tekstil dan Produk Tekstil (TPT) mengakui adanya peningkatan yang terjadi sewaktu kampanye Pilpres lalu. 

Namun, momen musiman itu diprediksi tidak akan lagi ada ditemukan hingga kuartal III-2019. Apalagi musim anak sekolah membeli seragam baru pun sudah berakhir.

Ade mencermati tren perang dagang saat ini akan menjadi salah satu faktor yang mempengaruhi kinerja industri TPT.

"Pada kuartal III kira-kira istilahnya masih flat, kalau ada lonjakan tidak terlalu mempengaruhi," katanya.

Perlambatan pertumbuhan di sektor manufaktur ini juga berbanding terbalik dengan investasi yang tinggi pada kuartal II-2019. Mengacu data Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), realisasi investasi pada triwulan II-2019 tumbuh 13,7% menjadi Rp 200,5 triliun dari Rp 176,3 triliun. 

"Pengaruh investasi ke sektor riil belum nendang, dampak investasi ke pertumbuhan industri untuk menciptakan dan menyerap lapangan kerja belum mampu mendongkrak," kata Peneliti Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) Ahmad Heri Firdaus di Jakarta, Rabu (7/8/2019).

INDEF mencermati, kinerja investasi jika dilihat dari Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) mengalami perlambatan dari 5,85% pada triwulan II-2018 menjadi hanya 5,01% saja di triwulan II-2019. 

PMTB kali ini juga lebih rendah dari pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 5,05%," kata Ahmad menambahkan. 

Fenomena ini disebabkan karena terjadinya kontraksi pada investasi barang modal (primer) dan perdagangan (sekunder) ke sektor yang sifatnya jasa (tersier). Dengan demikian, ada indikasi, dampak investasi ke penambahan lapangan kerja dan penciptaan lapangan kerja kian menipis begitu juga dengan efektivitasnya terhadap pertumbuhan ekonomi. 

Ia mengatakan terjadi pergeseran struktur investasi asing di Indonesia dari sekunder ke tersier. Tercatat, saat ini porsi penanaman modal asing (PMA) yang berada di sektor tersier seperti jasa keuangan mencapai 48,2%, selebihnya di sektor primer dan sekunder. [cb]

0 Response to "Industri Manufaktur RI Kian Suram Saja, Kenapa?"

Post a comment




>