Berani Tidak PKS Jadi Oposisi Sendirian?


GELORA.CO - Pengamat politik dari Universitas Pelita Harapan Emrus Sihombing mengatakan, satu partai pun boleh menjadi oposisi, terlebih lagi di era media social sekarang ini. Menurut dia, di era sosmed ini, tidak perlu lagi oposisi itu dilihat dari jumlah kursi di DPR. Sebab, sekarang ini jumlah kursi di DPR mendekati seimbang antara pihak yang berada di dalam maupun luar pemerintah.

Karena itu, Emrus berpandangan, tidak masalah andai ke depan Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra), Partai Amanat Nasional (PAN), Partai Demokrat (PD) menjadi bagian dari pemerintahan Presiden Joko Widodo alias Jokowi, sementara Partai Keadilan Sejahtera (PKS) berjalan sendiri.

“Satu partai boleh menjadi oposisi. Jangan dihitung (berapa jumlah partai oposisi), karena demokrasi it’s not only number,” kata Emrus di gedung DPR, Jakarta, Senin (29/7).

Direktur EmrusCorner itu mengatakan justru yang penting sekarang ini bukan persoalan jumlah, melainkan kualitas dari oposisi untuk menuju demokrasi yang lebih baik. Menurut Emrus, bisa juga kebenaran dan kebaikan itu datang dari suara minoritas di parlemen. “Mayoritas belum tentu kebaikan bisa datang karena di sana ada persaingan kepentingan,” ungkap Emrus.

Karena itu, Emrus berpendapat justru bagus kalau oposisi hanya diperankan oleh PKS. Mereka bisa melakukan manajemen dengan baik sehingga mampu memberikan antitesis pembangunan yang dilakukan pemerintah.

“Oleh karena itu bahwa andaikan PKS memerankan oposisi dengan era sosial media sekarang, bahkan bisa memerankan oposisi daripada DPR,” katanya.

Menurut Emrus, the power of social media begitu kuat pengaruhnya. Menurut dia, kalau zaman sebelum adanya media sosial, pandangan bahwa jumlah oposisi harus seimbang dengan partai pendukung pemerintah masih bisa diterima. Hanya saja, ujar Emrus, di era media sosial sekarang ini pandangan itu mungkin sudah sulit diterima.

“Jadi, perubahan teknologi komunikasi sekarang seluruh rakyat Indonesia bisa berperan sebagai pendukung pemerintah, bisa juga menjadi oposisi pemerintah. Jadi peran oposisi di legislatif itu tidak seperti yang dulu lagi, sekarang rakyat sudah bisa melakukan fungsi (pengawasan),” ujarnya.

Dia menegaskan, dulu dikenal empat pilar demokrasi yakni legislatif, eksekutif, yudikatif dan media massa. Kalau sekarang, kata Emrus, jumlah itu bertambah menjadi lima.

“Kalau saya mengatakan ada lima sekarang, the power of social media menjadi kekuatan tersendiri, tetapi dengan catatan sosial harus juga baik,” katanya.

Karena itu, Emrus menyarankan, setiap akun media sosial mencantumkan nama dan nomor KTP di belakangnya. Kalau masih di bawah 17 tahun dan belum memiliki KTP, maka bisa dicantumkan nomor kartu identitasnya orang tuanya supaya bisa teridentifikasi. [jn]
software untuk mengakses internet plasa hosting jasa pembuatan website iklan baris spesifikasi komputer server kumpulan software komputer hosting and domain pengertian klaim asuransi webhost indonesia asuransi islam dedicated server indonesia pengertian premi asuransi atlas indonesia pengertian asuransi syariah web hosting terbaik di indonesia perusahaan keuangan di indonesia hosting web daftar asuransi terbaik di indonesia download software pc terbaru web hosting terbaik indonesia web hosting terbaik indonesia makalah tentang asuransi kesehatan makalah asuransi cloud hosting indonesia usaha kesehatan sekolah universitas islam attahiriyah travelling in indonesia contoh bisnis plan sederhana daftar perusahaan asuransi di indonesia universitas internasional batam webhosting terbaik cloud server indonesia file hosting indonesia hosting domain murah asuransi menurut islam jumlah penduduk indonesia biaya kuliah universitas pancasila web hosting termurah web hosting gratisan manulife indonesia pt asuransi adira dinamika indonesian travel domain murah allianz indonesia harga web hosting universitas pendidikan indonesia cara membuat server vpn peringkat universitas di indonesia web hosting support php host indonesia domain paling murah biaya kuliah universitas trisakti harga hosting website indonesia travel guide hosting domain website builder indonesia jurusan universitas indonesia domain dan hosting web hosting indonesia indonesia travel laporan keuangan perusahaan go publik daftar universitas di indonesia domain dan hosting adalah daftar asuransi terbaik kode negara indonesia pengertian hukum asuransi universitas multimedia nusantara beli domain indonesia vps indonesia asuransi perjalanan ke eropa peta indonesia lengkap webhosting indonesia makalah asuransi syariah asuransi perusahaan adira asuransi promo domain murah bus indonesia domain hosting murah daftar asuransi pengertian asuransi pendidikan Nunavut budaya Lini Dayton Freight Hard drive Data Recovery Services Donate a Car di Maryland Pengganti motor Insurance Gas/Electricity Mortgage Attorney Loans Lawyer Donate Conference Call Degree Credit

GELORA.CO - Pengamat politik dari Universitas Pelita Harapan Emrus Sihombing mengatakan, satu partai pun boleh menjadi oposisi, terlebih lagi di era media social sekarang ini. Menurut dia, di era sosmed ini, tidak perlu lagi oposisi itu dilihat dari jumlah kursi di DPR. Sebab, sekarang ini jumlah kursi di DPR mendekati seimbang antara pihak yang berada di dalam maupun luar pemerintah.

Karena itu, Emrus berpandangan, tidak masalah andai ke depan Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra), Partai Amanat Nasional (PAN), Partai Demokrat (PD) menjadi bagian dari pemerintahan Presiden Joko Widodo alias Jokowi, sementara Partai Keadilan Sejahtera (PKS) berjalan sendiri.

“Satu partai boleh menjadi oposisi. Jangan dihitung (berapa jumlah partai oposisi), karena demokrasi it’s not only number,” kata Emrus di gedung DPR, Jakarta, Senin (29/7).

Direktur EmrusCorner itu mengatakan justru yang penting sekarang ini bukan persoalan jumlah, melainkan kualitas dari oposisi untuk menuju demokrasi yang lebih baik. Menurut Emrus, bisa juga kebenaran dan kebaikan itu datang dari suara minoritas di parlemen. “Mayoritas belum tentu kebaikan bisa datang karena di sana ada persaingan kepentingan,” ungkap Emrus.

Karena itu, Emrus berpendapat justru bagus kalau oposisi hanya diperankan oleh PKS. Mereka bisa melakukan manajemen dengan baik sehingga mampu memberikan antitesis pembangunan yang dilakukan pemerintah.

“Oleh karena itu bahwa andaikan PKS memerankan oposisi dengan era sosial media sekarang, bahkan bisa memerankan oposisi daripada DPR,” katanya.

Menurut Emrus, the power of social media begitu kuat pengaruhnya. Menurut dia, kalau zaman sebelum adanya media sosial, pandangan bahwa jumlah oposisi harus seimbang dengan partai pendukung pemerintah masih bisa diterima. Hanya saja, ujar Emrus, di era media sosial sekarang ini pandangan itu mungkin sudah sulit diterima.

“Jadi, perubahan teknologi komunikasi sekarang seluruh rakyat Indonesia bisa berperan sebagai pendukung pemerintah, bisa juga menjadi oposisi pemerintah. Jadi peran oposisi di legislatif itu tidak seperti yang dulu lagi, sekarang rakyat sudah bisa melakukan fungsi (pengawasan),” ujarnya.

Dia menegaskan, dulu dikenal empat pilar demokrasi yakni legislatif, eksekutif, yudikatif dan media massa. Kalau sekarang, kata Emrus, jumlah itu bertambah menjadi lima.

“Kalau saya mengatakan ada lima sekarang, the power of social media menjadi kekuatan tersendiri, tetapi dengan catatan sosial harus juga baik,” katanya.

Karena itu, Emrus menyarankan, setiap akun media sosial mencantumkan nama dan nomor KTP di belakangnya. Kalau masih di bawah 17 tahun dan belum memiliki KTP, maka bisa dicantumkan nomor kartu identitasnya orang tuanya supaya bisa teridentifikasi. [jn]

0 Response to "Berani Tidak PKS Jadi Oposisi Sendirian?"

Posting Komentar




>